Dinkes Kuningan Buka Peluang Reaktivasi BPJS Nonaktif saat Diskusi Warak-UBHI
KUNINGAN,iNEWS.ID– Forum diskusi Waroeng Rakyat (Warak) kembali menghadirkan ruang dialog publik yang berbeda. Kali ini, Warak menggandeng BEM Universitas Bhakti Husada Indonesia (UBHI) dalam agenda bertajuk Warak Goes to Campus, dengan fokus pembahasan isu krusial seputar krisis kesehatan.
Kolaborasi tersebut dikemas dalam Waroeng Diskusi Kesehatan dengan tema Krisis Kesehatan: Masalah Medis atau Kegagalan Sistem. Diskusi ini dihadiri mahasiswa lintas organisasi kemahasiswaan serta civitas akademika UBHI.
Sejumlah narasumber kompeten dihadirkan untuk mengupas persoalan kesehatan dari berbagai sudut pandang. Mereka di antaranya Wakil Rektor I UBHI Cecep Heriana SKM MPH PhD, Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kuningan dr H Denny Mustafa MKM, serta Kepala Kantor BPJS Kesehatan Cabang Kuningan Apt Retna Wahyuni SF MM.
Dalam pemaparannya, dr Denny Mustafa menyoroti persoalan kepesertaan BPJS Kesehatan yang kerap menjadi kendala masyarakat dalam mengakses layanan medis, khususnya bagi penderita penyakit kronis. Bahwa kepesertaan BPJS yang sempat dinonaktifkan masih memiliki peluang untuk diaktifkan kembali.
"Untuk masyarakat yang mengidap penyakit kronis, kepesertaan BPJS-nya bisa direaktivasi kembali,”ujar Denny, Senin (2/2).
Menurutnya, kebijakan reaktivasi tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati Kuningan yang disampaikan dalam agenda retret para kepala puskesmas beberapa waktu lalu. Saat ini, Dinas Kesehatan bersama puskesmas tengah melakukan proses tracing untuk mendata masyarakat yang berhak mendapatkan reaktivasi kepesertaan BPJS.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan kritis dari mahasiswa. Mereka menilai krisis kesehatan tidak semata persoalan medis, tetapi juga berkaitan erat dengan tata kelola sistem, kebijakan, serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang adil dan berkelanjutan.
Melalui forum ini, Waroeng Rakyat dan BEM UBHI berharap diskusi kampus tidak hanya menjadi ruang akademik semata, tetapi juga mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi konkret untuk perbaikan sistem kesehatan di daerah.***
Editor : Andri Yanto