Rektor Uniku Resmi Dijabat Sosok Perempuan usai 2 Periode Dipimpin Profesor
menyiapkan transformasi strategis melalui lima pilar utama. Di antaranya penguatan keunggulan akademik lewat riset dan publikasi internasional, pertumbuhan berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur ramah lingkungan, serta pengembangan masyarakat dan inkubasi bisnis UMKM.
Selain itu, ia juga menargetkan percepatan peningkatan kualifikasi dosen hingga jenjang Doktor dan Guru Besar, serta penerapan tata kelola manajemen berbasis teknologi informasi yang transparan dan akuntabel.
Ia menegaskan, kepemimpinannya akan dijalankan dengan prinsip keterbukaan dan kolaborasi.
"Kami tidak menjanjikan keajaiban instan, tetapi berkomitmen memimpin dengan integritas, transparansi, dan kolaborasi inklusif. Setiap kebijakan akan berbasis data demi kemajuan institusi,”terangnya.
Sementara itu, suasana haru menyelimuti pidato perpisahan Prof DrnDikdik Harjadi. Guru Besar Uniku tersebut memilih tidak memaparkan deretan capaian kinerja, melainkan merefleksikan makna mendalam dari amanah kepemimpinan yang telah diembannya.
Menurutnya, jabatan rektor bukanlah simbol kehormatan, melainkan tanggung jawab besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
"Sejak hari pertama, saya sadar jabatan ini bukan simbol kehormatan. Ini adalah amanah yang kelak dipertanyakan bukan oleh manusia, tetapi oleh Allah SWT. Setiap kebijakan, bahkan setiap diam yang saya ambil, akan dimintai pertanggungjawaban,”ungkapnya.
Prof Dikdik juga secara terbuka mengakui sisi manusiawinya selama memimpin, termasuk rasa takut berbuat keliru dan kekhawatiran menyakiti hati orang lain. Namun dari proses itu, ia belajar bahwa kepemimpinan menuntut keteguhan niat meski harus siap disalahpahami.
"Saya belajar bahwa memimpin berarti siap disalahpahami, namun tetap menjaga niat. Seluruh capaian Uniku bukanlah kerja satu orang, melainkan hasil kerja kolektif dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa,”tuturnya.
Menutup masa pengabdiannya, Prof Dikdik menitipkan pesan agar nilai integritas dan kepedulian terus dijaga. Ia memandang pergantian kepemimpinan sebagai sunnatullah, hukum alam yang menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan yang abadi.***
Editor : Andri Yanto