"Struktur atap rumah yang sudah lapuk tidak mampu menahan beban dan akhirnya ambruk. Bagian kamar tidur dan dapur dengan ukuran sekitar 5 x 4 meter runtuh,”ungkapnya.
Beruntung, dalam musibah bangunan ambruk tersebut tidak terdapat korban jiwa. Namun, dampak kerusakan cukup memprihatinkan.
Rumah yang ditempati Ida Suidah seorang diri kini tidak lagi layak huni. Lebih mengkhawatirkan, ambruknya bangunan tersebut turut mengancam rumah anaknya, Didi Rodiana (42), yang berada dalam satu atap dan dihuni lima jiwa.
"Ambruknya kamar milik ibu Ida menyebabkan atap rumah anaknya ikut terancam, mengingat kondisi bangunan yang saling menyatu dan material yang sudah lapuk,”jelasnya.
Akibat kejadian itu, Ida Suidah terpaksa mengungsi sementara ke rumah anaknya, meski bangunan tersebut juga berada dalam kondisi rawan. Di tengah cuaca yang masih diguyur hujan ringan, keluarga tersebut kini hidup dalam rasa was-was akan kemungkinan ambruk susulan.
Menindaklanjuti kejadian tersebut, aparat kelurahan setempat langsung berkoordinasi dengan aparat kecamatan, TNI, Polri, Baznas, serta BPBD Kuningan. BPBD juga telah menurunkan tim assessment ke lokasi dan menyalurkan bantuan logistik kedaruratan.
Sementara itu, aparat kelurahan bersama warga setempat berencana melakukan pembersihan material genteng dan puing-puing bangunan yang ambruk.
BPBD Kuningan mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati, khususnya di musim penghujan, terutama bagi warga yang tinggal di rumah dengan kondisi bangunan tua dan rapuh.
"Untuk kebutuhan darurat saat ini, yang paling dibutuhkan adalah material bangunan. Langkah penanganan lanjutan akan terus kami koordinasikan bersama pihak kelurahan dan instansi terkait,”tutupnya.***
Editor : Andri Yanto
Artikel Terkait
