KUNINGAN,iNEWS.ID–Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan bergerak cepat merespons ancaman kerusakan tanaman pangan, dengan menggelar Gerakan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (Gerdal OPT) secara masif dan serentak di tujuh kecamatan.
Gerakan pengendalian hama dan penyakit tanaman padi tersebut dilakukan, sebagai upaya menekan potensi penurunan produksi akibat serangan organisme pengganggu, mulai dari hama tikus hingga penyakit tanaman.
Kepala Diskatan Kuningan, Dr Wahyu Hidayah turun langsung memimpin pengendalian hama tikus di areal persawahan seluas 10 hektare di Desa Salareuma, Kecamatan Cipicung. Kegiatan tersebut melibatkan UPTD Brigade Proteksi serta Kelompok Tani Gempol I.
Wahyu menegaskan, pengendalian hama tikus tidak dapat dilakukan secara parsial atau sendiri-sendiri. Menurutnya, keberhasilan pengendalian sangat ditentukan oleh kekompakan petani dalam satu hamparan yang bergerak secara serentak.
"Pengendalian hama tikus tidak bisa parsial. Kunci keberhasilannya adalah kebersamaan petani dalam satu hamparan yang dilakukan serentak, mulai dari pra tanam hingga awal pertanaman,” tegasnya, Kamis (22/1).
Ia menjelaskan, Diskatan mendorong penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang tidak hanya bergantung pada penggunaan racun. Metode mekanis seperti gropyokan dan perusakan sarang tikus, serta metode biologis dengan memanfaatkan musuh alami seperti burung hantu, menjadi langkah utama yang dianjurkan.
"Penggunaan bahan kimia atau rodentisida menjadi opsi terakhir dan harus dilakukan secara selektif, agar tidak merusak keseimbangan lingkungan,”ujarnya.
Selain fokus pada hama tikus di Kecamatan Cipicung, Diskatan juga menerjunkan tim ke enam lokasi lainnya pada hari yang sama untuk menangani ancaman OPT yang berbeda. Pengendalian penyakit Blas dan Bacterial Leaf Blight (BLB) dilakukan di lahan seluas 30 hektare di Desa Simpayjaya, Kecamatan Karangkancana, serta 15 hektare di Desa Cibingbin.
Penanganan khusus penyakit Blas juga dilaksanakan di Desa Sagaranten, Kecamatan Ciwaru dengan luasan mencapai 20 hektare. Sementara itu, serangan Penggerek Batang Padi (PBP) ditangani di tiga wilayah yakni Desa Tundagan, Kecamatan Hantara seluas 7 hektare, Desa Walaharcageur, Kecamatan Luragung seluas 15 hektare, serta Desa Sukadana, Kecamatan Cibeureum seluas 20 hektare.
Ia berharap, sinergi antara pemerintah daerah dan para petani melalui gerakan pengendalian serentak ini, mampu meminimalkan risiko gagal panen (puso) sekaligus menjaga stabilitas produksi beras di Kuningan.
"Metode ini mengedepankan ketepatan cara dan keseimbangan ekosistem. Harapannya, ancaman OPT dapat ditekan dan produktivitas pertanian Kuningan tetap terjaga,”pungkasnya.***
Editor : Andri Yanto
Artikel Terkait
