Kematian Ratusan Ikan Dewa, Pemda Kuningan Bakal Evaluasi Pengelola

Andri Yanto
Penampakan ikan dewa yang mengalami kematian mendadak dari Balong Girang Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jabar. (Foto: Istimewa).

"Laporan yang masuk tadi pagi sudah hampir mencapai 800 ekor ikan yang mati. Ini tentu menjadi keprihatinan bersama,”ujar Bupati Dian, Selasa (10/2).

Berdasarkan hasil investigasi tim ahli dan dokter hewan melalui tindakan biopsi dan nekropsi, ditemukan fakta mengejutkan. Sebagian besar ikan yang mati mengalami kondisi perut kosong atau kelaparan.

"Saat dilakukan operasi, di lambung ikan memang tidak ditemukan makanan. Selain itu, ditemukan cacing, tingkat keasaman air yang tinggi, serta adanya serangan jamur,”ungkapnya.

Tak hanya itu, Bupati juga menyoroti kemungkinan masuknya penyakit dari ikan luar yang tidak steril. Ikan jenis nilem yang sebelumnya didatangkan untuk kebutuhan atraksi terapi ikan, diduga membawa patogen yang kemudian menular ke populasi Ikan Dewa asli.

"Bisa saja dari ikan-ikan yang didatangkan, seperti nilem untuk terapi ikan, yang tidak steril sehingga menularkan penyakit. Ada juga dugaan faktor suhu yang turut memengaruhi,”terangnya.

Sebagai langkah darurat, Pemkab Kuningan melalui Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) telah melakukan berbagai upaya teknis. Mulai dari pompanisasi untuk meningkatkan suplai oksigen, pengurasan air kolam, hingga pembongkaran sejumlah infrastruktur yang dinilai bermasalah.

Salah satu temuan penting dalam penanganan tersebut adalah keberadaan sumur tua yang telah tertutup selama puluhan tahun. Sumur itu ternyata menjadi perangkap ikan saat proses pengurasan kolam dilakukan.

"Ada sumur yang tertutup selama puluhan tahun, kita bongkar. Ternyata sumur itu menjadi tempat ikan terjepit saat kolam dikuras. Sekarang aliran airnya sudah kita buka," jelasnya.

Lebih jauh, dia menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi momentum pembenahan serius. Pemerintah daerah memastikan akan melakukan evaluasi total terhadap manajemen PDAU agar pengelolaan aset wisata daerah, khususnya yang bernilai ekologis dan historis tinggi, dilakukan secara lebih profesional dan bertanggung jawab.

"Ini tidak boleh terulang. Pengelolaan Balong Girang harus dibenahi secara menyeluruh,” ucapnya.

Editor : Andri Yanto

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network