KUNINGAN, iNews.id–Fenomena kematian massal Ikan Dewa atau Kancra Bodas di Balong Girang, kawasan wisata Balong Keramat Cigugur, Kabupaten Kuningan, kian mengkhawatirkan.
Memasuki sepekan lebih penanganan, jumlah ikan yang mati terus bertambah dengan angka yang cukup signifikan. Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkanak) Kuningan mengungkapkan, estimasi jumlah Ikan Dewa yang mati mencapai sekitar 500 ekor.
Fakta tersebut disampaikan langsung Kepala Bidang Perikanan Dinkanak Kuningan, Denny Rianto, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.
"Kalau angka kematian kami perkirakan sudah mencapai kurang lebih 500 ekor,”ujar Denny, Sabtu (7/2).
Untuk mencegah kematian lebih lanjut, tim gabungan yang terdiri dari Dinkanak, komunitas Akar, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), BPBD, serta PDAU terus melakukan upaya penyelamatan. Ikan-ikan yang masih hidup dievakuasi ke kolam karantina guna mendapatkan perawatan intensif.
Dari hasil pengamatan morfologis, Denny mengungkap fakta bahwa penyebab utama kematian ikan adalah serangan parasit jenis cacing Lernea. Parasit tersebut ditemukan menempel di bagian mulut, insang, hingga kulit ikan.
"Parasit ini menimbulkan rasa gatal, sehingga ikan sering menggesekkan tubuhnya ke dinding kolam. Akibatnya timbul luka, lalu terinfeksi jamur, dan akhirnya ikan mati,”jelasnya.
Tak hanya faktor biologis, Dinkanak juga menyoroti buruknya manajemen kualitas air di Balong Girang sebagai pemicu meledaknya populasi parasit. Sirkulasi air dinilai sangat minim, diperparah dengan sistem pembuangan atau outlet yang tidak ideal.
Menurut Denny, saluran outlet yang ada hanya membuang air di lapisan permukaan yang justru kaya oksigen dan nutrisi. Sementara itu, air di lapisan bawah yang mengandung endapan zat berbahaya justru terjebak di dasar kolam dan tidak pernah terbuang.
Fakta memprihatinkan lainnya terungkap saat tim melakukan nekropsi atau bedah bangkai ikan. Hasilnya, sebagian besar ikan ditemukan dalam kondisi sangat kurus akibat minimnya asupan nutrisi.
"Kelihatan sekali ikannya sangat kurus. Setelah kami periksa saluran pencernaannya, ternyata kosong, tidak ada makanan sama sekali. Jadi ini kombinasi dari lingkungan yang buruk, kekurangan nutrisi, dan cuaca ekstrem yang membuat daya tahan tubuh ikan turun drastis,”paparnya.
Sebagai langkah penanganan jangka pendek, tim gabungan kini melakukan pengurasan dan pengeringan total kolam. Proses ini diperkirakan memakan waktu hingga dua hari ke depan dan bertujuan memutus mata rantai penyakit yang telah terakumulasi di dalam air.
Selain itu, Dinkanak juga merekomendasikan langkah strategis dengan membuka kembali sumur mata air lama yang sebelumnya sempat ditutup. Sumur tersebut dinilai sebagai sumber air yang lebih ideal bagi habitat alami Ikan Dewa.
"Kami berencana mendatangkan alat berat bersama tim PUTR untuk membongkar kembali sumur lama yang dulu ditutup. Itu sumber air yang bagus dan sangat mendukung kelangsungan hidup Ikan Dewa,”kata Denny.
Proses evakuasi dan penanganan darurat ini diperkirakan masih akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Pemerintah berharap, melalui langkah-langkah tersebut, populasi Ikan Dewa yang tersisa dapat diselamatkan dari ancaman kepunahan lokal di Balong Keramat Cigugur.***
Editor : Andri Yanto
Artikel Terkait
