"Akibat pergerakan tanah ini, sedikitnya lima rumah warga dalam kondisi terancam. Namun hingga saat ini tidak terdapat korban jiwa,” ujar Indra Bayu Permana, Kamis (15/1).
Kelima rumah yang terdampak tersebut masing-masing milik Tariah (70) dengan satu jiwa, Ojon (40) dengan satu kepala keluarga berjumlah lima jiwa termasuk dua balita, Alex (55) dengan empat jiwa, Dedi (36) dengan dua kepala keluarga berjumlah lima jiwa termasuk dua balita, serta Komsari (45) dengan tiga jiwa.
Selain mengancam permukiman warga, gerakan tanah juga membahayakan infrastruktur lingkungan. Satu tiang listrik dilaporkan berada dalam posisi rawan roboh akibat penurunan tanah di sekitarnya, sehingga berpotensi menimbulkan risiko lanjutan bagi keselamatan warga.
Indra menerangkan, peristiwa ini dipicu oleh hujan yang mengguyur wilayah tersebut semalaman. Curah hujan yang cukup tinggi memperparah kondisi tanah yang sebelumnya sudah labil, hingga akhirnya mengalami penurunan dan retak-retak.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kuningan segera menerjunkan tim assessment ke lokasi kejadian. Aparat desa setempat juga langsung berkoordinasi dengan pihak kecamatan, TNI, Polri, serta BPBD untuk melakukan penanganan awal.
"Bersama aparat desa dan masyarakat, telah dilakukan pemasangan cerucuk bambu sebagai penahan sementara, serta penutupan area retakan menggunakan terpal untuk mencegah air hujan masuk dan memperparah pergerakan tanah,”jelasnya.
Ia menambahkan, pemasangan cerucuk bambu dan penutupan retakan telah selesai dilaksanakan. Meski demikian, BPBD tetap mengimbau warga agar meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat beraktivitas di sekitar lokasi terdampak, mengingat musim penghujan masih berlangsung.
"Kami mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Jika terjadi tanda-tanda pergerakan tanah lanjutan, segera melapor kepada aparat desa atau BPBD,”pungkasnya.***
Editor : Andri Yanto
Artikel Terkait
